Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Cara Analisa Pelanggan Menggunakan Costumer Acquisition Cost (CAC)

Bekerja.id – Kamu ingin membangun sebuah startup, team sudah solid, produk tinggal menunggu pemasaran di pasar yang pas. Saat ini, tinggal eksekusi saja bukan ? Sayang, banyak startup yang tidak berhasil bukan hanya karena produk yang mereka jual tidak laris atau mungkin tidak cocok dengan pasar yang direncanakan, tetapi biaya marketing produk tersebut tidak di-imbangi dengan jumlah pelanggan yang didapat.

Berikut pentingnya Customer Acquisition Cost (CAC). Customer Acquisition Cost adalah jumlah uang yang wajib dikeluarkan sebuah perusahaan untuk menarik sejumlah pelanggan baru. CAC bisa dihitung dengan rumus berikut ini:

Kita ambil contoh dengan sebuah restaurant bernama Rumah Makan A yang ingin menarik pelanggan baru. Setiap jam 13:00, RM tersebut memberikan ketoprak secara gratis ke karyawan yang bekerja disana, cetak brosur yang disebarkan, dan memasang iklan di koran. Dalam setahun, rumah makan itu menghabiskan Rp1.000.000 tetapi pada waktu yang sama, ia memperoleh 10.000 pelanggan.

Berarti CAC yang dikeluarkan oleh RM A adalah Rp100.000. Apa jumlah itu adalah hal yang bagus untuk perusahaan?

Ini tergantung dengan keuntungan (revenue) yang didapatkan oleh sebuah perusahaan.

Sebagai contoh, ada perusahaan fintech bernama MABA Financial technology mempunyai keuntungan sekitar 50.000 sampai 90.000 rupiah per transaksinya, karena itu nilai CAC 100.000 adalah nilai CAC yang buruk untuk perusahaan tersebut.

Tetapi, bila perusahaan A adalah perusahaan manufaktur mobil sekelas Toyota yang memiliki keuntungan per-transaksi lebih dari 20 juta maka nilai CAC 100.000 adalah nilai yang sangat baik untuk perusahaan A.

CAC berlaku pada pelanggan yang hanya lakukan transaksi sekali. Ada pula penghitungan sebagai metric untuk pelanggan yang lakukan transaksi secara terus-menerus adalah Customer Lifetime Value (CLV).

Hitung CLV sama pentingnya dengan hitung CAC. Berdasarkan penghitungan CLV, apabila MABA Fintech yang dibahas di atas memiliki pelanggan setia yang lakukan transaksi bisnis terus menerus, maka CAC sejumlah 100.000 adalah nilai yang bagus.

Ini ditentukan dengan rasio CLV : CAC. Perusahaan di mana CLV kurang dari CAC bukan perusahaan yang sustainable. Direkomendasikan bagi startup untuk jaga rasionya menjadi minimal 3 : 1.

Dalam kasus PT MABA Fintech, apabila hanya terjadi satu transaksi perbulan, karena itu keuntungan tahunan dari MABA Fintech adalah 50.000 x 12 bulan = Rp600.000.

Dengan ini, rasio CLV : CAC adalah 600.000 : 100.000 yang berarti 6 : 1. PT MABA Fintech sebagai perusahaan yang paling menguntungkan.

Jika kamu ingin meningkatkan CAC dari perusahaanmu, kamu bisa tingkatkan Customer Value atau suatu hal yang bisa tingkatkan kepuasan pelanggan baik dengan tingkatkan produk yang sudah ada atau membuat aliran dana baru dari customer yang sudah ada.

Yang jelas adalah, tentukan CAC sebagai poin penting tidak hanya untuk para pebisnis, tetapi untuk para investor. Investor akan melihat apa startup seorang dapat hasilkan keuntungan atau hanya memboros tanpa membuahkan hasil.